Senin, 25 Juni 2018

Jalan Panjang Hindia Belanda di Piala Dunia 1938

AFP Photo

"Melewati perjalanan panjang berminggu-minggu, perjalanan menuju Perancis tersebut menjadi perjalanan jauh pertama yang dilakukan tim nasional Hindia Belanda dalam pertandingan internasional."

Piala Dunia yang didominasi keikutsertaan negara-negara benua Eropa dan Amerika tidak lepas dari partisipasi negara-negara Asia. Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Iran menjadi negara yang tercatat beberapa kali mewakili Asia di perhelatan Piala Dunia.

Kiprah negara Asia di Piala Dunia pertama kali terjadi pada edisi Piala Dunia 1938 di Perancis sebagai edisi Piala Dunia kedua setelah pertama kali digelar pada tahun 1930 di Uruguay. Bukan negara-negara kuat seperti Jepang, Korea Selatan, ataupun Iran yang menjadi wakil pertama Asia di Piala Dunia pada saat itu, melainkan tim bernama Hindia Belanda (Dutch East Indies), yang kini dikenal sebagai Indonesia.

Piala Dunia 1938 di Perancis diikuti oleh 15 negara dengan rincian 12 negara benua Eropa, dua negara benua Amerika, dan satu negara dari benua Asia. Hindia Belanda menjadi satu-satunya wakil Asia di Piala Dunia 1938.

Sepak terjang Hindia Belanda di Piala Dunia

Hindia Belanda lolos ke Piala Dunia 1938 tanpa melewati satu pun pertandingan kualifikasi pengunduran diri Jepang menyusul pecahnya perang China di tahun 1930-an. Pada awalnya FIFA merencanakan pertandingan play-off tambahan antara Amerika Serikat dan Hindia Belanda. Mundurnya Amerika Serikat karena alasan finansial membuat Hindia Belanda otomatis lolos ke Piala Dunia 1938 untuk pertama kalinya.

Skuat Hindia Belanda yang berangkat ke Piala Dunia 1938 Perancis diisi oleh campuran pemain Belanda dan Indonesia. Pelatih Johannes Van Mastenbroek memimpin 16 pemain yang berasal dari klub-klub di bawah dua federasi yang berbeda, Nedelandsche Indische Voetbal Union (NIVU) dan Perserikatan Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI).

Klub sepak bola mulai bermunculan di Hindia Belanda pada abad 20 di berbagai kota besar. NIVU merupakan federasi yang didirikan sebagai induk organisasi sepak bola Hinda Belanda. Keberadaan NIVU menggantikan keberadaan federasi bentukan pemerintah kolonial sebelumnya yang dilanda konflik internal, yakni Nederlandsche Indische Voetbal Bond (NIVB).

Sejak didirikan 1935, NIVU bergabung dengan FIFA pada Mei 1936. Di tahun 1930, PSSI didirikan sebagai federasi tandingan yang menaungi klub-klub sepak bola pribumi.

Pada saat itu, NIVU sebagai federasi yang mempersiapkan keikutsertaan Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 memilih untuk bekerjasama dengan PSSI untuk menyeleksi pemain yang akan mengisi skuat.

Yohannes Pattiwael, menceritakan kisah ayahnya, Isaac Pattiwael, salah satu pemain Indonesia yang mengisi skuat Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 kepada FIFA.

"Kita harus mengingat ini terjadi saat pendudukan kolonial, NIVU berhak memilih siapa pemain Belanda yang dimainkan, tetapi banyak pesepakbola Indonesia yang lebih bagus dari sisi penampilan dan beberapa dari mereka terpilih untuk bergabung. Tentu, mereka memprioritaskan pemain Belanda untuk mengisi tim," ujar Yohannes dikutip dari FIFA.

Dilansir dari RSSF, NIVU dan PSSI sepakat menggelar seleksi untuk mencari pemain untuk mengisi skuat Hindia Belanda di Piala Dunia. Kesepakatan tersebut dilandasi perjanjian "Gentlement Agreement" yang telah disepakati NIVU dan PSSI. Salah satu poin dalam perjanjian itu, pembentukan tim nasional harus kooperatif melibatkan NIVU dan PSSI.

Sumohadi Marsis, seorang wartawan olahraga senior dalam wawancaranya kepada FIFA mengatakan pada saat itu rencana tersebut sempat mendapat penolakan.

"Pada saat itu sepak bola menjadi salah satu alat pergerakan untuk memperoleh kemerdekaan. Saat pemain dari klub PSSI diundang untuk bergabung dengan tim, beberapa menolak undangan tersebut," ujar Marsis kepada FIFA.

Pada akhirnya NIVU menyertakan beberapa pemain Indonesia ke dalam skuat Hindia Belanda. Pemain Indonesia yang tercatat dalam skuat antara lain Achmad Nawir (H.B.S. Soerabaja), Anwar Sutan (Vios Meester Cornelis), Hans Taihitu (S.V.J.A. Batavia), Suvarte Soedarmaji (H.B.S. Soerabaja), dan Hong Djien Tan (Tiong Hoa Soerabaja).

Menuju Perancis

Dikutip dari Java Post dalam artikelnya "Een Historische Voetbalreis", skuat Hindia Belanda bertolak menuju Perancis dengan naik kapal "Baloeran" pada 27 April 1938 dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Melewati perjalanan panjang berminggu-minggu, perjalanan menuju Perancis tersebut menjadi perjalanan jauh pertama yang dilakukan tim nasional Hindia Belanda dalam pertandingan internasional.

Sebelum menuju Perancis, rombongan mengunjungi Belanda untuk menggelar beberapa pertandingan uji coba. Selama di Belanda, mereka menginap di Hotel Duinoord di kota Wassenaar. Klub Den Haag dan Harlem dikabarkan menjadi lawan uji coba skuat Hindia Belanda apada saat itu. Pada awal Juni 1938, rombongan berangkat menuju Perancis dalam rangka persiapan melawan Hungaria di Piala Dunia 1938.

Hindia Belanda melakoni partai perdananya di Piala Dunia pada Minggu, 6 Juni 1938 waktu setempat. Bertempat di stadion Velodrome Municipale di kota Reims. Stadion bersejarah tersebut kini dikenal sebagai Stadion Auguste-Dalaune.

Lagu kebangsaan Belanda Wilhelmus dinyanyikan sebelum pertandingan yang menurut catatan FIFA dihadiri kurang lebih 9 ribu orang itu. Hindia Belanda yang mengenakan seragam kemeja berwarna oranye dengan paduan celana putih dan kaos kaki biru muda harus mengakui keunggulan telak Hungaria. Setengah lusin gol bersarang di gawang kiper Mo Heng Tan.

Bintang Hungaria pada saat itu Gyorgy Sarosi dan Gyula Zsengeller mencetak masing-masing sepasang gol. Dengan kekalahan tersebut, perjalanan Hindia Belanda di Piala Dunia langsung terhenti mengingat turnamen pada saat itu menggunakam sistem gugur. Sementara bagi Hungaria, mereka berhasil mencapai partai final walaupun pada akhirnya Italia keluar menjadi juara dunia.

"Rasa patriotisme para pemain Indonesia sangat luar biasa, walaupun dalam kondisi dijajah. Memang kita kalah, tapi ayah saya bilang, tidak masalah apapun yang terjadi kami mempertahankan Indonesia. Ayah saya sempat mencetak satu gol dalam pertandingan itu, tetapi dianulir," kisah Yohannes.

Kegagalan Hindia Belanda tersebut menjadi berita utama media Sumatra Post. Mereka mengutip laporan radio Han Hollander yang memberitakan bahwa Hindia Belanda memang kalah dari segi permainan dari Hungaria.

Sebelum kembali ke Hindia Belanda, skuat sempat melakukan pertandingan persahabatan melawan Belanda pada 26 Juni 1938. Bermain di Stadion Olympic Amsterdam, Hindia Belanda kalah dengan skor 9-2 di hadapan 50 ribu penonton yang memenuhi stadion.

Perjalanan pulang baru dimulai pada awal bulan Juli. Beberapa minggu kemudian, setibanya di Tanjung Priok, skuat Hindia Belanda mengakhiri perjalanan panjang selama tiga bulan dalam keikutsertaannya di Piala Dunia 1938.

Keikutsertaan Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 diakui sebagai keikusertaan negara Asia pertama kalinya. Keikutsertaan negara Asia di Piala Dunia baru kembali terwujud 16 tahun setelahnya, yakni pada Piala Dunia 1954 di mana Korea Selatan dan Turki menjadi wakil Asia pada saat itu.

Selepas Piala Dunia 1938, tidak banyak rekam jejak para pemain Hindia Belanda yang diketahui. Java Post menyebutkan hanya kiper Mo Heng Tan yang diketahui masih bermain untuk tim nasional Indonesia pada awal tahun 1951, ketika Indonesia melakukan debut pertandingan internasionalnya selepas meraih kemerdekaan melawan Sino Malay (Singapura). Tan sempat terpilih sebagai kiper tim nasional Indonesia untuk Asian Games 1951 di New Delhi, sebelum digantikan Maulwi Saelan akibat cedera. Pemain Hindia Belanda lainnya, Frans Meeng, diduga meninggal dalam tragedi tenggelamnya kapal Yunyo Maru pada September 1944.

Pada Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Walaupun demikian, kedaulatan Indonesia baru diakui oleh pemerintah kolonial belanda pada 27 Desember 1949. Sejak saat itu, keberadaan NIVB tidak ada lagi, induk organisasi sepak bola diambil alih secara penuh oleh PSSI yang resmi bergabung dengan keanggotaan FIFA pada 1952. Piala Dunia 1938 menjadi Piala Dunia pertama dan satu-satunya Piala Dunia yang pernah Hindia Belanda atau yang kemudian dikenal dengan Indonesia ikuti hingga kini.

"Hingga kini Indonesia tidak pernah kembali di Piala Dunia, begitu juga di Olimpiade, Indonesia juga hanya sekali lolos," tutur Marsis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saya harap anda puas membaca tulisan saya seperti halnya saya puas saat menulisnya.

Kamu adalah apa yang kamu tulis! Komentarmu mencerminkan isi otakmu. Mari budayakan berkomentar baik di internet.